Minggu, 24 Maret 2013

KONTRIBUSI MOTIVASI BELAJAR DAN LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA


KONTRIBUSI MOTIVASI BELAJAR DAN LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA
Adek Cerah Kurnia Azis1, Ramalis Hakim2, Yahya3
Konsentrasi Pendidikan Seni dan Budaya
Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Program Pascasarjana
Universitas Negeri Padang
email: adek_peros@yahoo.com

Abstract

The hypotheses that are going to be tested in this research are: (1) the contribution of learning motivation toward students of Visual Art Education Program learning achievement, (2) the contribution of rent house environment toward students of Visual Art Education Program learning achievement, and (3) the contribution of both learning motivation and rent house environment toward students of Visual Art Education Program learning achievement. The results of this research shows that: (1) learning motivation contributes 9,1%, (2) rent house environment contributes 52,3%, and (3) both learning motivation and rent house environment simultaneously contribute 56,8% toward students of Visual Art Education Program’s learning achievement. Furthermore, the achievement scores of learning motivation variables are 77,9%, in the medium category. Then, rent house environment variables toward students of Visual Art Education Program’s learning achievement are 51,4%, in less category.
           
Kata kunci: Motivasi belajar, lingkungan tempat tinggal, hasil belajar  
        mahasiswa seni rupa.


 ________________________
1 Mahasiswa penulis tesis Kosentrasi Pendidikan Seni dan Budaya untuk wisuda periode Maret 2013.
2 Pembimbing I, dosen Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang.
3 Pembimbing II, dosen Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang.
Pendahuluan
Belajar merujuk pada apa yang dilakukan seseorang sebagai subjek dalam belajar, yang merupakan upaya manusia untuk memperbaiki kualitas diri, menunjukkan adanya perubahan, modifikasi tingkah laku atau pengalaman manusia yang menghasilkan kemajuan manusia itu sendiri yang berhubungan dengan perubahan dalam suatu organisme. Hal ini berarti belajar membutuhkan waktu, belajar juga merupakan suatu hasil pengalaman yang membuat perubahan.
Belajar juga merupakan perubahan tingkah laku atau perubahan kemampuan manusia yang dapat bertahan dan bukan hasil dari pertumbuhan fisik. Pertumbuhan fisik yang terus berkembang bukanlah hasil dari belajar, perubahan dalam sifat-sifat fisik misalnya tinggi dan berat tidak termasuk belajar. Belajar merupakan suatu proses yang kompleks yang terjadi dalam diri seseorang sepanjang hidupnya (Arsyad, 2006:1). Kesuksesan seseorang dalam belajar ditentukan oleh: (1) faktor yang berasal dari dalam diri manusia dan (2) faktor yang berasal dari luar diri manusia.
Pendapat di atas diperjelas oleh Gagne (dalam Dahar, 2011:2), bahwa belajar “suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman”. Seiring dengan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan usaha sadar manusia untuk memperbaiki kualitas diri, sehingga memperoleh hasil yang baik. Dalam pencapian hasil tersebut banyak faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri (intern) dan yang berasal dari luar diri manusia (ekstern). Faktor yang berasal dari dalam diri yaitu berupa motivasi belajar, sedangkan faktor yang berasal dari luar diri seseorang berupa pengaruh dari lingkungan sosial berupa lingkungan tempat tinggal.
Motivasi belajar yang tinggi merupakan suatu hal yang baik untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan, dimana motivasi merupakan pendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar. Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan bagus atau jeleknya hasil belajar seseorang. Motivasi memiliki peran yang sangat penting dalam diri seseorang.  Hal ini disebabkan karena motivasi memberikan pengaruh terhadap hasil belajar. Contohnya rendahnya motivasi belajar pada mahasiswa merupakan gejala yang tidak baik, karena rendahnya motivasi belajar menunjukkan adanya sikap acuh tak acuh terhadap hasil belajar.
Keberhasilan seseorang sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya motif motivasi belajar pribadi itu sendiri, dengan kata lain pembangunan diri akan sukses bila motivasi belajar orang tersebut tinggi. Jika gejala negatif tidak segera dideteksi dan diatasi secara dini, maka masa depan seseorang akan sangat tidak menguntungkan. Mahasiswa yang juga disebut generasi muda diharapkan mampu berprestasi terhadap hasil belajarnya dan mampu menghadapi tantangan-tantangan yang ada pada masa sekarang dan yang akan datang.
Berdasarkan penjelasan di atas, bagaimana motivasi belajar mahasiswa Jurusan Seni Rupa dalam lingkungan sosial dilihat dari sebuah tempat tinggal berupa lingkungan kos. Motivasi belajar yang tinggi akan lebih baik bila sebuah lingkungan tempat tinggal memberikan pengaruh yang positif terhadap diri seseorang, dimana lingkungan yang jelek akan mampu mengikis habis motivasi belajar yang tinggi terhadap hasil belajar seseorang, hal ini dilihat pada lingkungan tempat tinggal mahasiswa Jurusan Seni Rupa.
Lingkungan sosial merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan seseorang dalam belajar. Komponen yang mempengaruhi keberhasilan belajar yang berasal dari lingkungan sosial diantaranya adalah baik buruknya kondisi lingkungan tempat tinggal. Agar seseorang dapat belajar dengan baik, maka diperlukan lingkungan tempat tinggal yang baik pula. Lingkungan tempat tinggal yang baik akan berpengaruh baik terhadap diri seseorang, begitu juga sebaliknya lingkungan yang buruk akan berpengaruh buruk terhadap keberhasilan seseorang dalam belajar.
Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan di atas, ada kecenderungan bahwa hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi ditambah dengan lingkungan tempat tinggal yang baik akan memperoleh hasil belajar yang baik juga. Sementara motivasi belajar yang tinggi bila lingkungan tempat tinggal membawanya ke dalam kejelekkan akan membuat hasil belajar yang kurang baik pula.
Bertolak dari uraian di atas dapat disimpulkan, keberhasilan seseorang dalam belajar itu dipengaruhi oleh motivasi belajar yang tinggi dan kondisi lingkungan tempat tinggal yang baik, dilihat dari kondisi di atas, hal ini penting untuk diteliti, karena sebagian besar mahasiswa Universitas Negeri Padang, khususnya mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa tinggal di lingkungan yang beraneka ragam, dimana dari lingkungan itu ada yang tinggal di lingkungan kos yang ada pengelola dan lingkungan kos yang tidak ada pengelola.
Berdasarkan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) kontribusi motivasi belajar terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, (2) kontribusi lingkungan tempat tinggal terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, (3) kontribusi motivasi belajar dan lingkungan tempat tinggal secara bersama-sama terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa.
Metode Penelitian
Penelitian ini tergolong dalam penelitian kuantitatif, dengan jenis penelitian ex post facto atau after the fact merupakan penelitian yang dilakukan terhadap peristiwa yang telah terjadi atau terhadap berbagai pengaruh yang telah terjadi pada masa lalu. Penelitian ex post facto merupakan bentuk atau bagian dari penelitian deskriptif (Lufri, 2007:57). Penelitian deskriptif merupakan dasar dari segala jenis penelitian, karena untuk menggambarkan atau menceritakan fenomena yang akan diselidiki dan melukiskan variabel demi variabel haruslah dideskripsikan terlebih dahulu dengan menggunakan teknik deskriptif. “Penelitian deskriptif dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena” (Prasetyo, 2010:42).
Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa yang tinggal di lingkungan kos, mulai dari Tahun Masuk (TM) 2008 sampai dengan 2011 dengan jumlah populasi 400 orang. Mengingat jumlah populasi cukup banyak perlu diambil sampel. Pengambilan sampel dalam penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan teknik stratifield proportional random sampling, melalui teknik ini diharapkan akan diperoleh sampel dengan proporsi dari setiap kelompok dalam strata populasi. Besarnya sampel ditentukan dengan menggunakan rumus Cochran (dalam Maiyulis, 1991:43). Sebanyak 79 orang yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini nantinya.
Pembahasan
Menurut Hamalik (2011:30) mengemukakan hasil belajar adalah “bukti bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti”. Hamalik (2011:159) juga menjelaskan bahwa hasil belajar adalah “segala hal yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan”. Kemudian Sudjana (2009:49) memaparkan hasil belajar adalah “perolehan perubahan tingkah laku setelah melakukan proses belajar, perubahan itu mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor”.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah sesuatu yang tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor), ketiga hal ini berupa penilaian akhir dari proses-proses dan pemberian-pemberian yang telah disampaikan berung-ulang, yang akan disimpan dalam waktu lama, untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mencapai hasil belajar  yang diinginkan.
Maulana (2012:7) menjelaskan bahwa “motivasi adalah tenaga penggerak dalam diri individu yang mendorong individu tersebut untuk bertindak dalam mencapai tujuan tertentu”. Selanjutnya Mc. Donald (dalam Hamalik, 2011:58) menjelaskan tentang pentingnya motivasi khususnya dalam belajar, Ia mengatakan bahwa “motivation is an energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction”. Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Tujuan yang hendak dicapai akan berjalan dengan baik apabila lingkungan membawanya ke arah kebaikan pula. Iskandar (dalam Nurdin, 2012:146) menyatakan: “bangkitnya motivasi belajar intrinsik seseorang sangat dipengaruhi oleh motivasi ekstrinsik, yaitu behavior (perilaku).
Selanjutnya Jeremy (2001:51) menjelaskan bahwa “motivation is some kind of internal drive which pushes someone to do things in order to achieve something”. Motivasi adalah usaha yang dilakukan dari dalam diri untuk mendorong seseorang mencapai suatu tujuan. “Motivated means to be moved to do something”. Motivasi adalah dorongan untuk melakukan sesuatu (Richard, 2000:54).  Emily R. (2011:5) mengatakan bahwa “motivation involves a constellation of beliefs, perception, values, interests, and actions”. Motivasi terdiri dari kepercayaan, persepsi, nilai-nilai, ketertarikan, dan perbuatan.
Bertolak dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah kekuatan penggerak yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, dorongan tersebut bisa berasal dari dalam diri (internal) dan luar diri (eksternal), untuk mengadakan perubahan tingkah laku dalam diri seseorang, bisa perubahan kognitif, afektif maupun psikomotor, diukur dengan beberapa indikator meliputi: (1) adanya hasrat dan keinginan keberhasilan, (2) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, (3) adanya harapan dan cita-cita masa depan, (4) adanya penghargaan dalam belajar, (5) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, dan (6) adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan seorang siswa dapat belajar dengan baik.
Selanjutnya Yusniati (2008:30) menjelaskan bahwa lingkungan tempat tinggal adalah hubungan antar manusia, yaitu mahasiswa dengan dosen, mahasiswa dengan teman bergaul, mahasiswa dengan keluarga, dan mahasiswa dengan komunitasnya. Lingkungan sosial kampus, seperti dosen, staf, dan teman-teman dapat mempengaruhi proses belajar seorang mahasiswa. Lingkungan tempat tinggal akan mempengaruhi proses belajar seorang mahasiswa karena lingkungan inilah yang paling dekat dengan kehidupan seorang mahasiswa.
Lingkungan sosial adalah keluarga dan masyarakat yang saling berinteraksi dengan kondisi tempat tinggal seseorang yang bisa mempengaruhi baik atau buruknya hasil belajar seseorang tersebut (Iru, 2006:100). Pada umumnya motif dasar yang bersifat pribadi seperti keinginan untuk belajar muncul dalam tindakan individu setelah “dibentuk” oleh pengaruh lingkungan. Oleh karena itu, motif individu untuk melakukan sesuatu, misalnya motif untuk belajar dengan baik dapat dikembangkan, diperbaiki, atau diubah melalui belajar dan latihan yaitu melalui pengaruh lingkungan (Uno, 2012:146).
Seiring dengan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa, lingkungan tempat tinggal adalah segala yang terdapat disekitar individu menetap, berupa tempat kos, baik yang bersifat biotik (keluarga, teman bergaul, pengelola kos, masyarakat, dan mahkluk hidup lainnya)  dan abiotik (rumah, asrama, kosan, dan benda-benda tak hidup lainnya) yang selalu berinteraksi secara timbal balik, baik secara langsung maupun tidak langsung, berupa lingkungan yang ada Ibuk atau Bapak kos, yang memiliki kewewenangan dan sebaliknya. Sebuah lingkungan kos yang ada pengelola akan mendapatkan perhatian dan memperoleh keamanan dari pengelola, perhatian tersebut bisa berupa aturan-aturan, yaitu berupa larangan-larangan yang menghambat prilaku-prilaku yang tidak baik, sementara keamanan tersebut, berupa terjaga dari gangguan luar yang tidak baik. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dilihat pengukuran indikator sebagai berikut: (1) berupa lingkungan belajar yang tenang, (2) mendapatkan perhatian, (3) kebutuhan akan rasa aman, dan (4) kebutuhan etika.
Berdasarkan pada hasil analisis data penelitian ini, menunjukkan bahwa motivasi belajar berkontribusi sebesar 9,1%, lingkungan tempat tinggal berkontribusi sebesar 52,3%, dan motivasi belajar dan lingkungan tempat tinggal secara bersama-sama berkontribusi sebesar 56,8% terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Selanjutnya pencapaian skor variabel motivasi belajar terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa berada pada kategori cukup yaitu 77,9%, sedangkan variabel lingkungan tempat tinggal terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa berada pada kategori sangat kurang yaitu 51,4% dari skor ideal. Motivasi belajar dan lingkungan tempat tinggal adalah dua faktor penting yang berkontribusi terhadap hasil belajar di samping faktor-faktor lain yang tidak bisa diabaikan yang juga berkontribusi terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa yang belum dikaji dalam penelitian ini.
Variabel motivasi belajar memberikan kontribusi terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, kemudian variabel lingkungan tempat tinggal juga berkontribusi terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Untuk itu variabel motivasi belajar dan variabel lingkungan tempat tinggal, baik secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri berkontribusi terhadap variabel hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Berikut ini akan diuraikan secara holistik sehingga data penelitian diharapkan dapat memberikan makna yang berguna.
1. Kontribusi Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi belajar memiliki hubungan yang signifikan dan memberikan kotribusi yang berarti terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Besar kontribusi motivasi belajar terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa 9,1%. Penelitian ini secara empiris menunjukkan bahwa motivasi belajar yang tinggi memberikan kotribusi yang signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, analisis data menunjukkan bahwa motivasi belajar memberikan kontribusi terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, dimana variabel motivasi belajar berada pada kategori cukup dengan skor rata-rata 77,9%, maka dari itu untuk meningkatkan hasil belajar yang lebih baik, usaha untuk meningkatkan motivasi belajar bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa perlu ditingkatkan, sebagaimana yang dikatakan oleh Sardiman (2008:41) “seseorang akan berhasil dalam belajar, kalau pada dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar. Keinginan atau dorongan inilah yang disebut dengan motivasi”.
Tujuan masa depan juga mempengaruhi kekuatan motivasi yang ada di dalam diri, dimana tujuan yang hendak dicapai akan tercapai dengan adanya dorongan yang kuat dari dalam diri untuk mencapai hal tersebut, Hamalik (2011:158) mengemukakan bahwa “motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”.
Sebuah motivasi belajar yang tinggi akan membawa hasil belajar yang lebih baik, Hamalik (2011:160) memaparkan “motivasi mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan seperti belajar, sebagai pengarah, mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dan sebagai penggerak, besar kecil motivasi yang akan menentukan cepat atau baik buruknya pekerjaan”. Segala kegiatan yang dilakukan memerlukan motivasi yang tinggi untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk mendapatkan hasil belajar yang baik, perlu usaha untuk meningkatkan motivasi belajar yang tinggi, sehingga tujuan dan segala keinginan bisa tercapai dengan baik.
2. Kontribusi Lingkugan Tempat Tinggal terhadap Hasil Belajar Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel lingkungan tempat tinggal berkontribusi sebesar 52,3% terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa lingkungan tempat tinggal mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa berada pada kategori sangat kurang dengan skor rata-rata 51,4%. Lingkungan tempat tinggal yang baik akan membawa siapa saja yang berada di lingkungan tersebut ke arah yang baik pula dan sebaliknya sebuah lingkungan yang jelek akan menjadikan siapa yang tinggal di sana ke arah yang jelek pula.
Kegiatan belajar akan baik bila lingkungan tempat belajar tersebut juga baik, sebuah lingkungan yang baik membuat yang tinggal di sana betah untuk belajar sehingga mendapatkan hasil belajar yang lebih baik pula. “Baik buruknya lingkungan disekitar seseorang merupakan faktor utama yang mempengaruhi perkembangan jiwa dan keberhasilan prestasi belajar seseorang (mahasiswa), lingkungan tersebut adalah lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat”, (Purwanto dalam Saputra, 2010:3-10).
3. Kontribusi Motivasi Belajar dan Lingkungan Tempat Tinggal Secara Bersama-sama terhadap Hasil Belajar Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa

Hasil analisis data penelitian ini menunjukkan bahwa variabel motivasi belajar dan variabel lingkungan tempat tinggal secara bersama-sama memberikan kontribusi terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Besar kontribusi kedua variabel secara bersama-sama terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa sebesar 56,8%, sisanya sebesar 43,2% merupakan sumbangan variabel lain yang mempengaruhi hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Padang yang belum dikaji dalam penelitian ini.  
Analisis data menunjukkan secara signifikan hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa dipengaruhi oleh motivasi belajar dan kondisi lingkungan tempat tinggal, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa akan dipengaruhi oleh motivasi belajar dan lingkungan tempat tinggal, dimana motivasi belajar yang tinggi jika tidak didukung oleh lingkungan tempat tinggal yang baik, maka tidak akan berarti terhadap hasil belajar, sebagimana yang telah disampaikan oleh Slameto (2010:54) bahwa “faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu: (a) faktor yang berasal dari dalam diri manusia (internal) dan (b) faktor yang berasal dari luar diri manusia (eksternal). Faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar seseorang berupa motivasi belajar, sedangkan faktor eksternal berupa lingkungan sosial”. Hasil belajar akan baik bila kedua faktor ini saling mendukung satu sama lainnya.
Simpulan
Motivasi belajar memberikan kontribusi sebesar 9,1% terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Padang. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan hasil belajar, mahasiswa harus memiliki keinginan untuk berhasil dalam belajar, kebutuhan dan dorongan dalam belajar, memiliki cita-cita yang tinggi, melakukan yang terbaik untuk mendapatkan nilai yang tinggi, tidak cepat bosan dalam belajar, dan kenyamanan dalam belajar. Selanjutnya hasil analisis deskriptif diketahui bahwa motivasi belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa berada pada kategori cukup dengan tingkat pencapaian responden sebesar 77,9% dari skor ideal.
Lingkungan tempat tinggal memberikan kontribusi sebesar 52,3% terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan hasil belajar, mahasiswa dapat memilih lingkungan tempat tinggal yang tenang, lingkungan yang memberikan perhatian, lingkungan yang memberikan keamanan, dan lingkungan yang memberikan teguran bila salah, sehingga mendapatkan kebutuhan akan etika. Selanjutnya hasil analisis deskriptif diketahui bahwa lingkungan tempat tinggal mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa berada pada kategori sangat kurang dengan tingkat pencapaian responden sebesar 51,4% dari skor ideal.
Motivasi belajar dan lingkungan tempat tinggal secara bersama-sama memberikan kontribusi sebesar 56,8% terhadap hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Hal ini menunjukkan bahwa meningkatkan motivasi belajar disertai dengan memilih lingkungan tempat tinggal yang baik, maka hasil belajar cenderung meningkat dan lebih baik.


Saran
Berdasarkan temuan penelitian ini diajukan beberapa saran sebagai rekomendasi kepada berbagai pihak sebagai berikut:
1.    Bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, tingkatkanlah hasrat dan keinginan untuk berhasil dalam belajar, supaya memperoleh hasil belajar yang lebih baik.
2.    Bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, tingkatkanlah kualitas belajar, supaya mendapatkan nilai yang tinggi sehingga memperoleh penghargan dari dosen yang mengajar. Penghargaan dalam belajar bisa diperoleh dengan mendapatkan pujian, memperoleh nilai yang tinggi jika memang layak, medapatkan hadiah, dan lain sebagainya yang bisa diberikan oleh dosen, untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar.
3.    Bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, perlu adanya upaya perubahan dalam kegiatan belajar, bisa merubah pola-pola belajar yang lama kepola yang baru, dengan variasi-variasi belajar yang lebih mengasyikan, sehingga kegiatan belajarpun tidak membosankan. Bagi dosen Jurusan Seni Rupa, juga perlu membuat suasana belajar menjadi menarik, dengan menvariasikan cara mengajar, bisa menggunakan infocus, gambar, diskusi, praktek ke luar kelas, dan lain sebagainya, sehingga mahasiswa tidak bosan, motivasi belajarnyapun akan meningkat.
4.    Bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, pilihlah lingkungan tempat tinggal yang tenang, aman, dan nyaman,  bisa dengan melakukan observasi terlebih dahulu menanyakan kepada pengelola kos bagaimana kondisi lingkungan tempat kos tersebut, apakah mendukung atau tidak terhadap hasil belajar nantinya. Apabila seorang mahasiswa sudah terlanjur tinggal dilingkungan kos yang tidak mendukung terhadap hasil belajar, sebaiknya berpindah dan mencari lingkungan yang mendukung hasil belajar nantinya.
5.    Bagi para pengelola kos supaya memberikan perhatian lebih kepada anak-anak kosnya, bisa dengan menanyakan keadaannya, menanyakan kuliahnya, menyuruh anak kos untuk rajin-rajin dalam belajar, dan perhatian lain yang bisa meningkatkan hasil belajar anak-anak kos nantinya.
6.    Bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa, supaya menjaga sikap di lingkungan tempat tinggal, untuk tidak berkata-kata yang tidak sopan, membawa lawan jenis ke dalam kamar kos, berteriak-teriak, dan sikap-sikap yang bisa mengganggu kenyaman orang lain. Bagi pengelola kos agar lebih tegas terhadap anak-anak kos yang tidak menjaga etika di lingkungan kos tersebut, supaya menegur atau bisa menyuruh pindah kalau memang sudah berulangkali melakukan kesalahan sama yang bisa mengganggu kenyamanan orang lain.





Daftar Rujukan
Arsyad, Azhar. (2006). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press.

Dahar, Ratna Wilis. (2011). Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.

Emily R. Lai. (2011). Motivation: A Literature Review Research Report. ______: Always Learning.

Hamalik, Oemar. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Iru, La. (2006). Pengaruh Lingkungan Sosial dan Pendidikan Terhadap Persepsi Pada Sesama Manusia (Studi pada Anggota Narapidana di Rumah Tahanan (Rutan) Raha-Sulawesi Tenggara). Sulawesi Tenggara.______.

Jeremy, Harmer. (2001). The Practice Or English Language Teaching. England: Longman-Eltcom.

Lufri. (2000). Metodologi Penelitian. Padang: UNP Press.

Maulana, Ipan. (2012). Pengaruh Lingkungan Tempat Tinggal. Bandung: UPI.

Mudjiono dan Dimyati. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Prasetyo, Bambang. Dkk. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Rajawali Press.

Richard M. Ryan and Edward L. Deci. (2000). Intrinsic And Extrinsic Motivation: Classic Definition And New Directions. _______: Academic Press.

Sudjana, Nana. (1982). Dasar-dasar Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Sera Jaya.

Uno, Hamzah. B. (2012). Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara.

Yusniati, Renny. (2008). Lingkungan Sosial dan Motivasi Belajar dalam Pencapaian Prestasi Akademik Mahasiswa. Bogor: IPB.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar